Tuesday, September 23, 2008

Mencari Lailatul Qadar

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),

[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,
[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]


2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).

Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).” (HR Bukhari 4/232).

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, “Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya - engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).

Antara tanda-tanda dalam mengetahui malam lailatul qadar adalah berdasarkan beberapa hadis di bawah :
1. Abi Ibnu Ka’ab telah meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda mengenai lailatul qadar yang artinya : Sesungguhnya matahari yang keluar pada hari itu tidak begitu bercahaya (suram). - Hadis riwayat imam Muslim dalam kitab puasa -
2. Telah diriwayatkan daripada Nabi S.A.W bahawa baginda telah bersabda yang artinya : Sesungguhnya tanda-tanda lailatul qadar, bahawa malamnya bersih suci seolah-olah padanya bulan yang bersinar, tenang sunyi, tidak sejuk padanya dan tidak panas, tiada ruang bagi bintang untuk timbul sehingga subuh, dan sesungguhnya tanda-tandanya matahari pada paginya terbit sama tiada baginya cahaya seperti bulan malam purnama tidak membenarkan untuk syaitan keluar bersamanya pada hari itu. - Hadis riwayat imam Ahmad dengan isnad jayyid daripada Ibadah bin As-Somit -
3. Dalam Mu’jam At-Tobarani Al-Kabir daripada Waailah bin Al-Asqa’ daripada Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya(suram).
4. Telah meriwayat Al-Barraz dalam musnadnya daripada Ibn Abbas bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul Qadar bersih tidak panas dan tidak pula sejuk.
Qadhi ‘Iyad telah mengatakan ada dua pendapat mengenai matahari yang terbit tanpa cahaya iaitu:
1) Ia merupakan tanda penciptaan Allah SWT.2) Menunjukkan bahawa kerana terlalu banyak para malaikat yang berzikir kepada Allah pada malamnya dan mereka turun ke bumi yang menyebabkan sayap-sayap dan tubuh mereka yang halus menutupi dan menghalangi matahari dan cahayanya.
Daripada hadis-hadis di atas bolehlah kita buat kesimpulan bahawa antara tanda-tanda lailatul qadar ialah :
a. Pada malamnya keadaan bersih dengan cuaca tidak sejuk dan tidak pula panas.
b. Malamnya tenang yang mana terang dan angin tidak bertiup sebagaimana biasa dan awan agak nipis.
c. Malamnya tidak turun hujan dan bintang pula tidak bercahaya seolah-olah tidak timbul.
d. Pada siangnya pula matahari terbit dalam keadaan suram

Kesimpulannya:
Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.

Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.”

Monday, September 22, 2008

Kadang-kadang Kita Baru Tersedar, Kita Lupa Sejarah

Anuar Hj Safian
Penulis terpanggil untuk juga membicarakan tentang apa yang diucapkan oleh Datuk Ahmad Ismail, Ketua UMNO Bahagian Bukit Bendera Pulau Pinang dalam isu hangat yang diperkatakan ketika ini berkaitan dengan orang Cina adalah menumpang dalam negara ini dan tidak boleh memiliki hak samarata dengan orang Melayu.


Bagi penulis isu ini, sama ada ianya telah dimanipulasikan oleh akhbar Sin Chew Jit Poh atau dipermainkan oleh anggota parti Gerakan atau sengaja diperbesarkan oleh parti lawan dan pembangkang kerajaan itu tak penting.


Yang penting ialah fakta dan sejarah yang nak diluahkan oleh Datuk Ahmad sendiri selaku pemimpin bahagian dan pemimpin yang berada di dalam sebuah negeri yang dipimpin oleh orang bukan Melayu sejak begitu lama.


Kadang-kadang kita juga harus menghormati apa yang ditafsirkan sebagai luahan dari hati kecik sendiri yang telah lama berlegar-legar diminda Datuk Ahmad.


Dan mungkin kita mengambil satu peluang untuk berfikir sejenak tentang apakah yang dikatakan oleh Datuk Ahmad itu ada betul atau tidaknya di dalam arus politik adu domba semasa yang penulis kira orang bukan Melayu sedang mencari kelemahan di atas kedudukan semasa yang tidak menentu.


Memang mengikut sejarah sepertimana yang terkandung di dalam buku bertajuk "The Asian Godfathers, Money & Power in Hong Kong and Southeast Asia" tulisan Joe Studwell, mengatakan bahawa, "kedudukan Semasa ekonomi Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura dan Hongkong adalah disebabkan dua faktor sejarah besar yang berlaku sejak kurun ke 18 iaitu penghijrahan dan kolonisma".


Di dalam buku tersebut ia mengatakan bahawa penghijrahan besar-besaran telah berlaku pada pertengahan abad ke 19 daripada tanah besar negeri Cina sehinggalah ke negara Asia Tenggara kerana dua faktor penting iaitu berlakunya perang candu yang berlaku 1839-42 dan di antara 1856-60 berlaku pembukaan pelabuhan kapal dagang wap di samping pembukaan pelabuhan baru kapal wap di Asia Tenggara.


Pembukaan perkhidmatan kapal wap daripada Haikou di Hainan ke Bangkok sebagai contohnya menyebabkan begitu ramai orang China yang berketurunan Hainese di Thailand pada masa ini.


Dan daripada pengamatannya mengikut sejarah jumlah ini telah meningkat disebabkan oleh pembukaan industri-industri baru yang berasaskan timah dan perladangan oleh Inggeris yang ternyata telah banyak mewujudkan pelan pola pendudukan baru kepada Orang Cina dan India dirantau ini.


Maka bagi penulis ini adalah bukan penemuan baru, dan semasa kemerdekaan terbentuk pun pemimpin-pemimpin UMNO pada masa itu pun sudah bersedia untuk berkongsi kuasa dengan parti-parti lain di dalam PERIKATAN asalkan hak keistimewaan orang Melayu, kedudukan raja-raja Melayu, bahawa Melayu dan agama Islam didalam negara ini tidak diancam.


Dan ini terbukti apabila pengasas MCA pada masa itu iaitu; Tun Tan Siew Sin, mengakui semangat toleransi UMNO untuk mewujudkan negara ini bersama-sama PERIKATAN melalui kata-katanya kepada Tunku;


"Perlu saya katakan bahawa saya amat kagum dengan kemulian dan sikap tolak ansur pemimpin-pemimpin UMNO, lagipun ini juga adalah isu-isu yang sangat penting bagi mereka dan dalam keadaan getir begitu, mereka masih boleh bertolak ansur dan perpandangan jauh".


"Maka saya dengan ini akan memberi sokongan sepenuhnya kepada anda dan UMNO sehingga akhir hayat saya kerana anda dan rakan-rakan telah menunjukkan keihklasan yang tidak berbelah bahagi semasa melalui ujian getir itu, anda telah membuktikanya dengan tindakan anda, kami semua tidak mampu meminta lebih dari itu".


Oleh yang demikian kita semua harus sedar bahawa pemimpin-pemimpin dahulu adalah dari mereka yang sedar tentang diri dan kedudukan mereka dalam masyarakat negara ini, tetapi pada hari ini kita berdepan dengan pemimpin yang tidak sedar lagi akan kedudukan yang telah termaktub dalam perlembagaan.


Dan sebagai tambahan kepincangan politik sedia ada, kita juga sudah mulai terhakis untuk memiliki kriteria dan ciri-ciri kepimpinan bersuara seperti Datuk Ahmad Ismail dalam UMNO dan Kerajaan.
Maka sedarlah.. ambo pun baru khaba...bekalih..


Penulis Adalah Ketua Pemuda UMNO Kubang Kerian

ANWAR a Desprado politik


(Apa yang dibangga sangatkah Anwar nak menjadi hero bangsa lain dalam pada masa yg sama menipu Bangsa Melayu)
Dia kemarok sokongan sampai ketepikan Hak Orang Islam Dan Melayu…..Meludah bangsa sendiri bila turun berarak bertemu Kumpulan HINDRAF di Padang Jeti Kelang selepas pemimpin HINDRAF dibebaskan dari Mahkamah pada 26 NOV 2007.

(Aku tipu Melayu, aku tipu India, aku tipu Cina, aku tipu Iban, aku tipu Kadazan...janji aku jadi PM!)

Tahukah anda antara tuntutan HINDRAF,“Hapuskan Hak Istimewa Orang Melayu”….Mana prinsip Anwar????


Sentimen Cina, India cetus keresahan kaum
KUALA LUMPUR: Ketua Pembangkang, Datuk Seri Anwar Ibrahim, memainkan sentimen amat berbahaya dengan menimbulkan pelbagai isu berbentuk spekulasi seolah-olah melakukan 'tawar-menawar' dengan masyarakat Cina dan India untuk meraih simpati bagi mencapai impiannya untuk berkuasa. Ketua Penerangan Umno, Tan Sri Muhammad Muhd Taib, berkata Penasihat Parti Keadilan Rakyat (PKR) itu menimbulkan lepas satu isu satu isu lain, macam dalam drama, plot demi plot, sedangkan semua itu hanya spekulasi politik.
"Anwar meraih simpati undi Cina dan India untuk berkuasa. Ini mengakibatkan wujud salah interpretasi mengenai hak kaum. Semua kaum seharusnya mematuhi hak mereka dalam Perlembagaan Persekutuan kerana perkara itu sudah dipersetujui ketika kemerdekaan," katanya. Sehubungan itu, beliau meminta rakyat tidak terpengaruh dengan slogan politik Anwar yang memainkan sentimen orang Cina dan India supaya meruntuhkan keharmonian serta kemakmuran yang dibina kerajaan Barisan Nasional (BN).
Katanya, berikutan sentimen yang dimainkan Anwar itu, wujud persepsi rakyat bahawa kerajaan BN lemah, sedangkan BN sudah mentadbir dengan baik. "Kalau BN benar-benar lemah, keadaan kewangan tidak stabil dan Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi tidak cekap mentadbir negara, bagaimana kerajaan boleh mengumumkan bajet yang begitu pemurah dan menyenangkan tahun demi tahun sejak 2004?" katanya
"Mereka nak guna blog dan internet untuk ajar kita mengenai peralihan kepemimpinan dan kuasa. Sangat malang kerana kebanyakan rakyat terlalu mempercayai kandungan bahan dalam blog sedangkan di Amerika Syarikat, rakyat negara itu menyiasat dulu butiran dalam blog dan tidak mempercayai bulat-bulat apa yang ditulis dalam blog," katanya.
Sementara itu, Naib Presiden MIC, Datuk S Veerasingam, berkata Anwar jelas bermain sandiwara selama ini yang bukan saja menggugat hubungan kaum, malah menjejaskan ekonomi negara. "Permainan politik Anwar sangat bahaya dan tidak bertanggungjawab.
Saya minta orang ramai terutama masyarakat India tidak terpengaruh dengan pembohongan beliau," katanya. Bagaimanapun, beliau yakin sokongan masyarakat India terhadap BN akan terus kukuh dan segala tembelang Anwar akan terbongkar.
Ketua Pemuda MCA, Datuk Liow Tiong Lai, berkata cara politik yang berbaur perkauman sangat berbahaya terutama di Malaysia yang memiliki rakyat majmuk. "Anwar terus menerus menggugat keamanan negara dan bermain dengan emosi rakyat.

Sunday, September 21, 2008

Jangan Padam Fakta Sejarah


(Tulisan di bawah ini adalah satu pandangan ikhlas dari seorang pemuda Cina yang begitu jitu dan terbuka pemikirannya. Fakta yang diberikan cukup bagus. Artikel ini ditujukan kepada pembaca yang buta sejarah dan yang semborono mengeluarkan kata-kata apabila berbicara persoalan perkauman di Malaysia)

PRESIDEN MCA, Datuk Ong Ka Ting berkata, sebab utama komuniti Cina berang dengan kenyataan Datuk Ahmad Ismail yang menganggap mereka sebagai pendatang adalah kerana "nenek moyang mereka telah berkorban untuk negara ini lama sebelum negara ini mencapai kemerdekaan."

Saya tidak pasti sama ada boleh bersetuju dengan pendapat Ka Ting itu. Sebagai generasi muda keturunan bukan Melayu saya ragu-ragu dengan kebenaran kenyataan itu. Benarkah nenek moyang kita telah berkorban untuk negara ini melalui kerja keras setelah berhijrah dari benua China ke Malaysia, dulunya Tanah Melayu?

Atau kerja keras yang dilakukan itu adalah pengorbanan untuk membebaskan diri mereka daripada kehidupan yang melarat sewaktu berada di negara asal mereka sehingga ada antara kita menjadi kaya raya dan tidak mahu lagi balik ke China atau India atau Indonesia?
Sebagai pelajar sejarah, saya lebih cenderung untuk percaya bahawa nenek moyang saya yang datang ke negara ini bekerja siang malam bukan sangat ingin berbakti kepada Tanah Melayu, seperti yang didakwa oleh Ong Ka Ting, tetapi lebih untuk memajukan diri supaya kesengsaraan kehidupan mereka sebelum itu berjaya diatasi.

Pengamatan ini saya buat setelah membaca buku V. Purcell berjudul Chinese in Malaya. Dalam buku itu, pengarang Inggeris itu antara lain merumuskan, " in Malaya their main concern was to make enough to retire to China as soon as possible ."
Menurut Purcell, matlamat Inggeris membawa pendatang asing China dan India adalah untuk memeras kerajinan mereka bekerja bagi meraih keuntungan ekonomi kepada kuasa Eropah itu. Tidak tertulis - secara tersurat atau tersirat yang pendatang China itu dibawa ke Tanah Melayu untuk memberi pengorbanan bagi membangunan negara ini.

Dengan kata-kata lain, kedatangan komuniti dari China ke negara ini bukan untuk berbakti untuk Tanah Melayu seperti yang didakwa oleh Kah Ting tetapi untuk meneroka atau malah memeras kekayaan negara Melayu ini, membuat sebanyak mungkin kekayaan pada waktu yang singkat, kemudian hidup untuk senang lenang di negara asal mereka.

Ka Ting dan warga Malaysia keturunan Cina yang lain patut menerima hakikat itu, bukannya memandai-mandai membuat kesimpulan untuk menyedapkan hati masyarakatnya dengan menolak hakikat sejarah. Usahlah kita menipu sejarah atau menggunakan sejarah sebagai expidient politik untuk menghalalkan tentangan kita terhadap persetujuan asas yang telah kita capai sewaktu negara ini mencapai kemerdekaan.

Fakta
Benar, generasi keturunan pendatang itu sekarang mungkin sudah menjadi warga negara Malaysia. Tetapi kita tidak akan dapat memadamkan fakta bahawa warga Malaysia keturunan Cina adalah berasal usul pendatang. Apa yang saya tahu tidak ada antara mereka yang berhijrah ke Tanah Melayu dulu dengan niat untuk berkorban membangunkan Tanah Melayu. Mereka datang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Setelah menemuinya, mereka membuat keputusan untuk tinggal terus di sini.

Tuan rumah pula bersetuju untuk mengiktiraf mereka bukan sebagai penumpang, tetapi sebahagian daripada warganya. Alangkah bertuahnya kita. Kalau orang luar berhijrah ke negara China, mereka belum tentu lagi diberi layanan yang sama.

Lihatlah bagaimana pihak berkuasa China melayan komunis Melayu yang tinggal dalam buangan di negara China. Setelah berpuluh-puluh tahun menetap di Beijing, mereka tidak diberi pengiktirafan sebagai warga negara. Mereka dilayan seperti sampah.

Akhirnya, pejuang komunis seperti Musa Ahmad, Khadijah Sidek dan ramai lagi terpaksa pulang ke Malaysia kerana berasa dianaktirikan oleh pihak berkuasa Republik Rakyat China walaupun mereka pernah berjuang untuk kepentingan ideologi yang sama.

Lantaran usahlah kita emosional kerana hakikatnya warga keturunan bukan Melayu memang bangsa luar dari alam Melayu ini. Cuma status kita sudah bertukar yang memberi kita hak untuk menetap di negara ini, sama seperti yang dimiliki penduduk pribumi. Kita sepatutnya bersyukur kerana dapat bernaung di bawah kepimpinan Melayu, dulunya Raja-raja Melayu sekarang UMNO. Kita dibenarkan membuat kekayaan mengatasi orang Melayu itu sendiri. Alangkah beruntungnya kita.

Jadi bagi saya sebab yang lebih munasabah mengapa orang Cina di Malaysia patut berang kalau dianggap sebagai pendatang bukan kerana nenek moyang kita pernah berkorban untuk Tanah Melayu, tetapi kerana mereka sudah menjadi warga negara Malaysia. Sebagai warga negara tentulah tidak kena jika label pendatang dipakai untuk kita.

Hak-hak kita sebagai warga dijamin oleh Perlembagaan Persekutuan. Tentulah tidak ada jaminan yang lebih kudus daripada apa yang terkandung dalam undang-undang utama negara itu. Tiada siapa yang boleh menarik balik atau membatalkan apa yang tercatat di dalamnya.

Bagi saya apa yang saya pasti ialah pemberiaan kewarganegaraan kepada penduduk imigran Cina secara liberal berdasarkan prinsip jus soli adalah satu lagi bukti hasil kemurahan hati pemimpin Melayu pada 1957 telah membolehkan kita tinggal di bumi Melayu tanpa berasa takut diusir ke tempat lain. Kita hendaklah menjadi manusia yang tahu mengenang budi kerana dengan satu coretan pena, 1.5 juta penduduk imigran telah menjadi warga negara Tanah Melayu. Jika tidak, datuk nenek kita kita dulu mungkin menjadi orang tanpa warga negara. Bayangkan kesusahan yang akan kita alami.
Atau jika tidak besar kemungkinan nenek moyang kita terpaksa balik ke negara China dan kita tidak ada hak untuk tinggal di negara yang bernama Malaysia ini.

Bagi saya pemberian kewarganegaraan berdasarkan prinsip jus soli ini adalah hak istimewa yang diberikan oleh orang Melayu kepada penduduk imigran ketika itu. Kita menikmatinya serta merta, tidak seperti hak istimewa orang Melayu yang diabaikan pelaksanaannya oleh pemimpin Melayu itu sendiri pada tahun-tahun awal kemerdekaan sehingga terpaksa diperkenalkan Dasar Ekonomi Baru (DEB) pada 1970.

Warga Malaysia keturunan Cina patut berterima kasih dengan orang Melayu kerana pemberian kewarganegaraan itu adalah muktamad dan tidak boleh dipersoalkan.

Malah membangkitkan status kewarganegaraan kepada orang Cina sama seperti mempersoalkan kedudukan Raja-Raja Melayu, hak istimewa orang Melayu/bumiputera, kedudukan Bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan dan agama Islam sebagai agama Persekutuan, adalah suatu kesalahan di bawah Akta Hasutan 1948.

Sebagai mengenang budi pemberian orang Melayu, marilah kita akur dengan apa yang telah dipersetujui oleh nenek moyang kita dengan para pemimpin Melayu sewaktu negara mencapai kemerdekaan. Marilah kita belajar untuk menerima hakikat bahawa kedudukan hak istimewa orang Melayu adalah sesuatu yang sudah selesai dan tidak harus mempertikaikan lagi.
GENERASI MUDA REALISTIK Shah Alam



PANAS. Anwar telah berjaya mendapat kerusi

Gila kuasa! Itulah perkataan yg sesuai dgn beliau! Merampas hak pengundi yg memilih wakil Parlimen mereka dengan begitu senang sahaja dengan alasan ingin menegakkan keadilan, tetapi hakikatnya beliau membelakangi kuasa rakyat! Niat menghalalkan cara! Tunggu PR ke 13 sahaja lah!!!!

Saturday, September 20, 2008

Wait for next election, Anwar

SEPTEMBER 16 had come and gone. Datuk Seri Anwar Ibrahim failed to unseat Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi as the Prime Minister.
As a Muslim, Anwar should accept that he can plan, but God decides. From the very beginning what he did was morally wrong, although politics by a Machiavelian standard is apolitical.
It may be the accepted norms in other developing countries, but Malaysia has come of age and our politicians should show maturity and dignity when clamouring for political power.

Anwar should have the patience to wait for the next general election and let the people decide. He already has control over five states and should concentrate on them by showing to the people how the Opposition governs these states.

In a democracy it is the people who actually hold and wield power and not the politicians. For in the words of Abraham Lincon, “democracy is government by the people, of the people and for the people.”

On March 8, the people decided to cut Barisan Nasional’s two-third majority and yet BN accepted the defeat graciously and respected the will of the people.

When Anwar won in the Permatang Pauh by-election, it was again an indication of the people’s will and again BN accepted it in good faith.

Instead of being arrogant, Anwar should be humble with his victory in Permatang Pauh. Buying over BN representatives runs counter to his anti-corruption campaign.

A man of virtue will not resort to unethical means to meet his objectives and he has indeed lost the respect of certain quarters. As a member of the public, I call on Anwar to close ranks and work together in the interest of the country.
As a former Deputy Prime Minister and Umno strongman, he has access to Pak Lah and can contribute in terms of ideas etc.
As the Opposition Leader, he can play a constructive role by bringing up pressing issues which affect the rakyat directly.

What the people need is less politicking as there are many urgent matters affecting them, such as illegal immigrants, spiralling food prices, wayward youths, the education system, etc.etc.
I was in the Ministry of Foreign Affairs for a short stint when Pak Lah was the Minister. I had the opportunity to study him at close range.

In all honesty, Pak Lah is a God-fearing man, hardworking, humble and well-liked by civil servants. I believe he never yearned to be the Prime Minister. Tun Dr Mahathir probably saw the good values in Pak Lah and passed the premiership to him to the surprise of some hopefuls.

Being the Prime Minister is not as easy as being a Deputy Prime Minister. Indeed, heavy is the head that wears the crown,as Pak lah has probably found out.

But as he said at a press conference, ”... being Prime Minister is not main-main and olok-olok..it is serious business...”

I believe Pak Lah is a man of his word. When the time comes he will honour his words and pass the baton to his annointed successor Datuk Seri Najib Tun Razak.

Meanwhile, let Pak Lah do his job in peace.

Thursday, September 18, 2008

Henti rosakkan rakyat


HARI ini 17 September 2008, Pusat Pentadbiran Kerajaan Persekutuan di Putrajaya masih menyaksikan rutin mingguan jemaah menteri menghadiri mesyuarat Kabinet yang dipengerusikan Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.


Segala urusan di semua kementerian dan jabatan-jabatan kerajaan yang berpusat di situ berjalan seperti biasa. Tiada yang luar biasa jika dibandingkan hari ini dengan hari-hari sebelumnya.

Cuma ada sedikit kelainan tercatat di Putrajaya hari ini apabila Abdullah memanggil sidang akhbar mengumumkan penyerahan jawatan Menteri Kewangan 1 kepada timbalannya, Datuk Seri Najib Tun Razak.


Jawatan Menteri Pertahanan yang sebelum ini disandang oleh Najib pula dipikul oleh Perdana Menteri berkuatkuasa serta-merta. Manakala tempoh peralihan kuasa diperakui oleh kedua-duanya kekal pada 2010.


Itulah perkembangan terbaru dan terkini dari Putrajaya dan tiada lain daripada itu seperti diuar-uarkan oleh pakatan pembangkang yang diketuai oleh Datuk Seri Anwar Ibrahim.


Seharusnya diakui kebelakangan ini pemikiran dan tumpuan kakitangan kerajaan sedikit terganggu apabila ahli Parlimen Permatang Pauh itu tampil dengan penuh yakin bersama misi untuk menawan Putrajaya yang sepatutnya disempurnakan semalam.


Di sebalik penafian demi penafian di pihak Ahli Parlimen Sabah dan Sarawak yang diuar-uarkan akan melompat parti, terpalit sedikit kebimbangan serta rasa gelisah kalangan rakyat sementara menunggu hadirnya 16 September.


Bukan sahaja kalangan rakyat bawahan, golongan pertengahan serta profesional yang diajak berbicara tentang pembentukan kerajaan baru oleh pakatan pembangkang pada 16 September tidak menolak kemungkinan itu.


Apatah lagi selepas Anwar mencatatkan kemenangan pada pilihan raya kecil Permatang Pauh baru-baru ini, gambaran yang diperoleh menunjukkan sokongan terhadap Penasihat Parti Keadilan Rakyat (PKR) itu tidak boleh diperkecilkan.


Sebab itu paluan gendang mengenai pembentukan kerajaan pakatan pembangkang tidak boleh tidak 'mengganggu' perhatian banyak orang di negara ini, biar pun ramai yang tidak percaya namun untuk menolaknya seratus peratus tidak sama sekali.


Namun kepercayaan serta keyakinan terhadap Anwar dan impian indah yang kini telah pun hancur lebur hakikatnya semakin goyah kerana sikap berdolak dalik beliau yang tidak pernah berubah.
Kita tentu tidak lupa bagaimana Anwar mencadangkan supaya negeri yang dikuasai pakatan pembangkang mengisytiharkan 16 September sebagai cuti umum sempena pembentukan Malaysia yang menyaksikan kemasukan Sabah dan Sarawak.


Sementelah beberapa purnama sebelum itu Anwar mencanangkan kekecewaan ahli-ahli Parlimen dari kedua-dua negeri itu sehingga mereka beralih arah kepada pakatan pembangkang.


Kononnya jika cadangan tersebut dilaksanakan kelak, maka terubatlah luka mereka, dan sokongan kepada Anwar akan bertambah padu. Ia juga bertujuan menunjukkan betapa Ketua Pembangkang itu amat prihatin akan nasib penduduk di kedua-dua negeri itu dan mahu mereka dihargai dengan cara memberi cuti pada tarikh penting itu.


Lebih daripada itu, tarikh 16 September bersekali dengan idea pembentukan kerajaan pakatan pembangkang, justeru perisytiharan cuti umum tentunya sesuatu yang amat perlu.


Namun cadangan semudah dan seringkas itu pun tidak mendapat sokongan padu menteri besar dan ketua menteri di lima buah negeri yang dikuasai pakatan pembangkang. Masing-masing tampil dengan alasan tersendiri.


Dan apabila tiba tarikh 16 September tidak ada satu negeri pun yang mengisytiharkan cuti - cadangan Anwar tinggal retorik dan seolah-olah tidak dihormati langsung oleh anak buah Perdana Menteri yang bakal dinobatkan itu.


Kemuncak
Kemuncak malam menjelang 16 September juga memperlihatkan bahawa impian Anwar tidak bersandarkan hujah jauh sekali bukti kukuh. Kehadiran ribuan penyokong pakatan pembangkang membawa harapan menggunung pada malam tersebut, namun ucapan Anwar yang ditunggu-tunggu ternyata hanya mengulangi episod silam.


Tiada idea baru jauh sekali sekelumit ayat yang boleh mengukuhkan segala impiannya, lebih daripada itu tiada countdown di ambang 16 September sebaliknya lampu di stadium dimatikan sebelum jam 12 tengah malam.


Pusingan masa telah membuktikan bahawa Anwar berjanji kosong sekali gus membohongi rakyat dan mengusik keharmonian yang telah dikecapi sejak negara mencapai kemerdekaan. Ketua Pembangkang itu cuba mengheret rakyat ke dalam mimpi-mimpinya dan kegilaan Anwar itu ternyata sedikit sebanyak menjejaskan usaha kerajaan untuk membangunkan negara apatah lagi dalam keadaan ekonomi yang tidak menentu.


Wakil-wakil rakyat tidak dapat menumpukan sepenuh perhatian kerana terpaksa menyakinkan pengundi masing-masing bahawa mereka tidak akan melompat parti. Anwar pula bermati-matian mempertahankan kenyataannya bahawa nama lebih 30 ahli Parlimen BN telah berada di dalam genggamannya.


Hakikatnya, jika benar sekali pun sebanyak itu ahli Parlimen BN yang akan melompat parti, penubuhan kerajaan pakatan pembangkang tidak semudah itu.


Pas sehingga kini tidak menyatakan komitmennya terhadap kerajaan 'mat jenin' Anwar. Jika ada pun yang kelihatan taksub kepada idea tersebut jumlahnya boleh dibilang dengan jari.


Apa akan jadi jika Pas enggan bekerjasama menjayakan kerajaan pakatan pembangkang yang kini tarikh akhirnya dilanjutkan lagi itu. Ia bukannya sesuatu yang mustahil kerana teras kerajaan pakatan pembangkang tidak bersandarkan Islam dan sukar diterima akal jika DAP mahu membenarkan pemimpin Pas menjadi Perdana Menteri.


Sebab itu tidak ada salahnya jika cita-cita Anwar disamakan dengan angan-angan mat jenin malah kegilaannya lebih daripada itu. Mat jenin tidak mengheret rakyat dalam mimpi-mimpinya. Mat jenin cuma mengangankan tuan puteri tanpa mendatangkan kerosakan kepada orang lain.


Tetapi Anwar telah mengkucar-kacirkan pemikiran rakyat sehingga pembohongan tidak berlapik itu diterima bulat-bulat biarpun tidak masuk akal.


Hentikanlah semua sandiwara yang tidak membawa keuntungan kepada rakyat, jika Anwar gila untuk memerintah maka lakukanlah secara berhemah. Jika ada rezeki jadilah Perdana Menteri dengan dengan cara yang bermaruah dan bukannya dengan merosakkan pemikiran rakyat.

Wednesday, September 17, 2008

Kecelaruan 16 September

Tanggal 16 September adalah ulang tahun penubuhan Malaysia. Tarikh keramat yang memerdekakan Sabah, Sarawak dan Singapura apabila menyertai Persekutuan Malaysia pada tahun 1963.
Hari ini, tarikh 16 September 2008 menjadi perhatian seluruh negara dan masyarakat antarabangsa. Apakah sejarah baru akan dicipta, dengan pemerintahan kerajaan Persekutuan bertukar tangan daripada Barisan Nasional (BN) kepada Pakatan Rakyat?

(The Zig-Zag Road to Sept 16?? Can you believe it?)

Dalam politik ia bukan mustahil berlaku dan tidak boleh ditolak ke tepi begitu sahaja.
Cerita pembentukan kerajaan baru yang digembar-gemburkan dan sepatutnya berlaku pada hari ini adalah satu perkara yang ditunggu-tunggu, tetapi kecelaruan rakyat dan ketidaktentuan satu hal yang lain.

Tidak pernah dalam sejarah 51 tahun negara merdeka, fikiran orang Melayu yang sepatutnya menumpukan kepada ibadah puasa Ramadan ini didera kerana pergolakan politik dan cita-cita merebut kuasa.

Inilah yang terjadi apabila Anwar Ibrahim yang tidak berkesempatan menyertai pilihan raya umum ke-12 pada Mac lalu menggunakan pilihan raya kecil Permatang Pauh untuk memulakan langkah ke Putrajaya.


Anwar menyatakan bahawa kerajaan BN akan tumbang pada 16 September ini. Mereka mendakwa seramai 30 orang ahli parlimen (MP); 13 daripada Sabah dan 17 daripada UMNO Semenanjung akan menyertai mereka menubuhkan sebuah Kerajaan Persekutuan baru menggantikan BN.


Ketika ini Parlimen Malaysia mempunyai 222 buah kerusi. Kerajaan BN mempunyai 140 kerusi manakala PR 82. BN menubuhkan kerajaan persekutuan dengan majoriti mudah iaitu majoriti 58 kerusi; kurang 8 untuk membentuk majoriti 2/3.


Apakah mungkin 'Kejutan 16 September' terjadi pada hari ini?
Jika berlaku, rakyat ingin sangat melihat wajah ahli Parlimen yang hendak berpaling tadah ini. Jentera pelobi Pakatan Rakyat memfokuskan kepada ahli Parlimen UMNO Semenanjung dan BN Sabah untuk menyertai mereka.


Sebab itu ada rombongan pembangkang sanggup ke Taiwan untuk terus melobi anggota Parlimen BN yang membuat lawatan ke sana.


16 September cukup bermakna pada hari ini. Penyokong pembangkang yakin inilah saatnya pakatan pembangkang tampak mempunyai peluang cerah untuk menumbangkan kerajaan BN.


Sebaliknya, penyokong BN juga percaya inilah masanya tembelang kepura-puraan aspirasi Pakatan Rakyat boleh ditelanjangkan. Ini kerana apa lagi alasan dan hujah jika peristiwa 16 September tidak berlaku. Apakah maruah Anwar dan pembangkang tidak tercalar dan terhina?


Dengan masa yang tinggal beberapa jam sebelum tarikh hari ini bertukar ke angka 17 September akan terjawabkah satu teka-teki mengenai satu 'rampasan kuasa' dengan cara yang tidak beretika dalam sejarah negara.


Sekiranya 16 September gagal direalisasikan, kita percaya Anwar sudah bersiap sedia dengan pelbagai alasan. Sebelum ini Anwar tidak peduli pun soal tiadanya persidangan Parlimen dalam bulan Ramadan, ahli Parlimen Sabah dan Sarawak belum bersedia, masanya terlalu awal, lalu Anwar akan beri hujah bahawa usaha berterusan sedang dijalankan dan sebagainya.


Bagaimanapun PKR telah berjaya menimbulkan keraguan dan ketidakyakinan rakyat terhadap pimpinan kerajaan BN. Setiap hari kita dihidangkan kisah 16 September.


Anggota parti komponen BN nampak begitu mudah diusik hati mereka hingga rapuh dan hilang kepercayaan antara satu sama lain.


Anwar sudah tidak dapat bersabar lagi untuk melantik dirinya sebagai Perdana Menteri Malaysia yang baru. Satu-satunya jalan pintas ke arah mencapai cita-cita itu ialah merampas kuasa dengan cara 'membeli ahli parlimen BN' melompat parti.


Anwar yang gemar membuat kejutan-kejutan kini boleh bercelaru otaknya jika operasi 'lompat parti' oleh kira-kira 30 anggota Parlimen BN ke pihak pembangkang tidak berlaku. Lompat parti di kalangan ahli Parlimen BN diperlukan oleh Anwar untuk menjatuhkan kerajaan Malaysia sekarang yang sah terpilih dan mendapat mandat daripada rakyat.


Rahsia
Walaupun 'bayang-bayang' penubuhan kerajaan baru pada hari ini bagaikan tidak akan berlaku, namun seorang pemimpin pembangkang yang dihubungi tetap yakin ia akan berlaku. Tetapi ia bergantung soal bila dan bagaimana ia akan berlaku masih lagi rahsia.


Bagi PKR, jumlah ahli Parlimen yang akan melompat ke tempat duduk sebelah pembangkang sudah mencukupi.


Walau apa pun keputusan propaganda '16 September', gagal atau berjaya ditubuh kerajaan baru pada hari ini, ia sudah pasti menguntungkan Anwar.


Bayangkan jika impian itu terlaksana hari ini. Apa yang akan diubah dan ditukar oleh kepimpinan Pakatan Rakyat. Kita tunggu dan lihat pelbagai institusi dan dasar kerajaan terutamanya yang melibatkan segala kepentingan Melayu akan menerima kesan.


Rakan-rakan Anwar yang kini ramai bukan Melayu sudah tentu mahu segala warisan atau peninggalan BN dibuang. Mereka mahukan kelainan. Semuanya perlu disamaratakan.


Permainan politik yang diamalkan Anwar adalah politik celaru. Politik memecah belahkan orang Islam dan rakyat. Demi memenuhi cita-cita politik dan menjatuhkan kerajaan yang sah serta merampas kekuasaan, Anwar tidak peduli kesan akibat tindakan beliau yang mementingkan peribadi.
Anak jati Permatang Pauh itu tidak peduli timbul keresahan dan ketidakstabilan politik di kalangan masyarakat.


Kecelaruan fikiran Anwar tidak berakhir di situ. Selepas rasa kurang berjaya mencanangkan lompat parti, Anwar membuat satu kejutan lain. Dia mencanangkan agar negeri-negeri yang di bawah pemerintahan Pakatan Rakyat menjadikan 16 September sebagai cuti umum. Cadangan Anwar itu suatu pengkhianatan kerana ia bertujuan sekadar memancing sentimen masyarakat khususnya rakyat Sabah dan Sarawak.


Kita telah menerima dan menyambut 31 Ogos sebagai Hari Kemerdekaan Malaysia sejak 51 tahun yang lalu, sementara bagi rakyat Sabah dan Sarawak pula sejak 45 tahun yang lalu. Jadi, kenapa sekarang ini kita mahu timbulkan isu ini?


Bagi rakyat yang terpesona dengan penampilan Anwar, mereka begitu teruja dengan karisma dan pidato Anwar. Tetapi kita selalu lupa bahawa kesihatan dan usia Anwar bukan kekal muda dan bertenaga. Jika dia hanya sempat memimpin negara untuk tempoh yang singkat, siapakah pemimpin pelapis untuk menggantikan tempatnya.


Bahkan, kita tertanya-tanya siapa di kalangan pemimpin pembangkang mempunyai pengalaman mentadbir kerajaan. Kewibawaan pentadbiran kerajaan negeri yang kacau-bilau dan berat sebelah sekarang menimbulkan rasa tidak puas hati di kalangan rakyat.


Rakyat negara ini ramai yang tertanya-tanya, sekalipun impian Anwar adalah untuk menjadi Perdana Menteri, tetapi kenapa dia memilih jalan yang tidak beretika untuk berada di puncak kekuasaan. Mengapa tidak tunggu pada pilihan raya umum ke-13?

Tuesday, September 16, 2008

16 Sept tonjolkan lagi keretakan PAS


Gara-gara projek pembentukan kerajaan baru pada 16 September seperti diura-urakan penasihat PKR Datuk Seri Anwar Ibrahim, PAS pula yang terpaksa bertelagah sesama sendiri khususnya antara Mursyidul Amnya Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat dengan Pesuruhjaya PAS Terengganu Datuk Mustafa Ali.


Susulan sikap kritikal Mustafa terhadap projek Anwar dalam wawancaranya dengan Harakah dan Utusan Malaysia minggu lalu, Nik Aziz menyifatkan pengarah pilihanraya parti itu “sudah menjadi lidah Umno” dan “betul-betul serupa dengan nada presiden Umno”.


Dalam kenyataannya sebagai reaksi terhadap pandangan Mustafa, Nik Aziz turut menyifatkan PAS Terengganu "telah tersalah memilih seorang pesuruhjaya" dengan membandingkan kenyataan bekas perdana menteri Tun Dr Mahathir Mohamed yang menganggap tersilap memilih penggantinya Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.Tokoh besar PAS itu turut membayangkan Mustafa kemungkinan akan meninggalkan PAS dan menyertai Umno.


Bagaimanapun beberapa bahagian panas kenyataan panjang Nik Aziz ini, yang dikirimkan kepada Harakah, tidak dimuatkan dalam akhbar rasmi parti itu dalam edisi terbarunya.Tidak cukup dengan serangan itu, Nik Aziz mengulangi kritikannya kepada Mustafa dalam ceramah di Markaz Tarbiah PAS di Gombak, Ahad lepas, dua hari selepas kenyataan kontroversi itu diterbitkan.Dihubungi Malaysiakini semalam, pesuruhjaya itu enggan mengulas kenyataan Nik Aziz.


Mustafa dalam kedua-dua akhbar itu berpendapat perubahan kerajaan yang cuba diusahakan Anwar hari ini "tidak mungkin berlaku" dengan dua alasan. Pertama, pada tarikh itu, Dewan Rakyat tidak bersidang, maka undi tidak percaya terhadap perdana menteri tidak boleh dibawa walaupun majoriti ahli parlimen menyebelahi Pakatan Rakyat.Beliau juga dilaporkan berkata, secara politiknya, tidak pernah berlaku wakil rakyat kerajaan melompat parti untuk menyertai pembangkang.Beberapa jam sebelum serangan sinis Nik Aziz kelmarin, seorang wartawan Harakah terpaksa menarik balik kenyataan penuh menteri besar Kelantan itu daripada blognya atas arahan ketua pengarang eksekutif akhbar itu Ahmad Lutfi Othman.


"Beberapa alasan telah diberi, namun saya pasti sebenarnya beliau tersepit. Malangnya oleh kerana kebimbangan saya di atas beberapa sebab, saya dengan itu menarik kembali artikel tersebut dengan rasa berat hati dan merasai kebebasan bersuara telah disekat," catat Wan Nordin Wan Yaakob di blognya Politik Suku Sakat (wannordinwanyaakob.blogspot.com).


Tambahnya, seorang lagi wartawan akhbar rasmi PAS itu "turut menerima tamparan apabila seorang pemimpin menghubunginya dan meminta isu itu jangan dihebahkan, malah kenyataan Tok Guru (Nik Aziz) itu katanya (pemimpin itu) melampau.""Saya hanya penulis picisan yang terhimpit dengan ideologi politik suku-sakat, dan inilah yang dikatakan 'Politik Suku Sakat', akhirnya saya juga yang terkena penahan mereka," kata wartawan itu lagi.


Wan Nordin bagaimanapun tidak mendedahkan pemimpin-pemimpin PAS yang mengganggu beliau dan seorang wartawan wanita itu. Usaha Malaysiakini menghubunginya hari ini gagal.Dalam kenyataan yang sama, kini beredar lebih meluas dalam kalangan penyokong PAS yang pro-kerjasama dengan Pakatan Rakyat, Nik Aziz turut melahirkan kebimbangannya apabila Harakah sendiri terlibat menyiarkan pandangan Mustafa yang meragui usaha menumbangkan kerajaan BN gaya Anwar itu.


"Saya tidak dapat bayangkan bagaimana Harakah boleh memainkan peranan sebagai lidah rasmi parti dan organ parti, apabila orang nombor satu (Mustafa) yang merupakan pesuruhjaya PAS Terengganu ini telah mengambil sikap membelakangi keputusan Muktamar," kata Nik Aziz.


"Saya percaya, ini sedikit sebanyak akan mempengaruhi pojok, cerita, berita dan analisis yang dibuat. "Dengan dibenarkan penerbitan dua kali seminggu maka lebih cepat lagilah ia boleh merosakkan imej Harakah. Pada logiknya, pembaca Harakah akan berkurangan. "Saya fikir suatu keputusan perlu dibuat mengenai perkara ini."
Dipetik dari laman Malaysiakini.com

Monday, September 15, 2008

Masjid Kinrara sokong Teresa kena ISA




Pengerusi Masjid Bandar Kinrara, yang menerima petisyen membantah penggunaan pembesar suara untuk beberapa kegiatan agama, bersetuju dengan tindakan kerajaan menggunakan Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA) ke atas exco kanan Selangor, Teresa Kok.


Abdul Rahman Nasir berkata, secara umumnya, perkara sensitif membabitkan agama "tidak boleh dimainkan"."Perkara ini tidak boleh dimainkan. Terutama sekali di negeri Selangor ini, bukan saja (berkenaan) agama Islam, tetapi apa agama pun (tidak boleh dimainkan)."


Penahanan Teresa dipercayai mempunyai kaitan dengan petisyen sekumpulan 189 penduduk sekitar Seksyen 5, Bandar Kinrara yang meminta pihak masjid tersebut memperlahankan penggunaan pembesar suara untuk aktiviti keagamaannya.Perkara itu bagaimanapun dinafikan oleh Teresa, yang juga ahli parlimen Seputeh.


Bercakap kepada Malaysiakini petang ini, Abdul Rahman bagaimanapun enggan memberikan komen lanjut berkenaan isu itu kerana pihaknya cuma sebagai penerima petisyen dan tidak tahu-menahu tentang perkara lain di sebalik isu itu.Masyarakat Islam setempat pula, menurut Abdul Rahman tidak memberikan sebarang reaksi terhadap penahanan itu dan bertindak seperti biasa."Kita tidak ada apa. Sudah lama dah masjid ini dibina.


Itulah, persoalannya, kenapa sekarang? Kalau tidak puas hati, pindahlah. "Dari dulu lagi waktu hendak beli rumah, pelannya sudah ada, sini masjid, sini taman permainan. Kenapa dulu beli di sini?" katanya.Selain Teresa, pengendali blog Malaysia Today Raja Petra Kamaruddin dan wartawan Sin Chew Daily Tan Hoon Cheng turut ditahan di bawah akta kontroversi itu, Jumaat lalu.Tan bagaimanapun dibebaskan sehari selepas itu.

A Trip to Taiwan


BRING ON "Katak" To Anwar Ibrahim
Do or Die Mission or Malu Mission.

Sunday, September 14, 2008

Teresa Kok di tahan ISA atas isu tulisan jawi







Ahli Exco Kerajaan Negeri Selangor, Teresa Kok ditahan di bawah Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA) pukul 11.20 malam ini. Timbalan Ketua Polis Negara, Tan Sri Ismail Omar mengesahkan penahanan itu di bawah Seksyen 73 (1) akta berkenaan.Masih belum ada pengesahan yang jitu berhubung dengan penahan Teresa Kok berbanding dua lagi atas Isu Datuk Ahmad Said dan Laman kontroversi RPK.Adakah Teresa Kok di tahan kerana isu Tulisan jawi? Kalau ya isu ini sudah lama, bulan Ogos lalu kenapa sekarang baru bertindak!




(Gambar: Teresa yang anti Tulisan jawi)
Teresa Kok mengepalai satu petisyen penduduk di Puchong kepada Datuk Satim Diman (ADUN Seri Kembangan) mencadangkan agar azan diperlahankan kerana didakwa menggangu ketenteraman penduduk. Ianya sama seperti cadangan Tan Seng Giaw (Ahli Parlimen Kepong) dalam parlimen pada tahun lepas. Di manakah Hassan Ali (Exco dari PAS) dalam hal ini? Bukankah tindakan itu jelas jelas menentang Islam?









Thursday, September 4, 2008

Ramadhan: Bulan Penun Keampunan


Bulan Ramadhan adalah merupakan bulan penuh dengan rahmat, berkah dan ampunan ALLOH SWT. Pintu-pintu surga dibuka sedangkan pintu-pintu Neraka ditutup dengan syetan-syetan dibelenggu. Dan sebagaian orang sudah tahu bahwa sepuluh hari pertama merupakan hari-hari yang penuh rahmat, sepuluh hari kedua dipenuhi dengan maghfirah (ampunan), dan sepuluh hari terakhir adalah dijauhkan dari api neraka. Hal itu tentu saja diperuntukan bagi orang yang melakukan puasa dengan penuh iklas dan bersungguh-sungguh.

Bulan yang penuh dengan Big Sale Pahala, ibadah yang kita lakukan akan mendapat pahala yang berlipat ganda.

Semoga Kita termasuk orang-orang yang mendapat ke tiga keutamaannya. AMIN

Monday, September 1, 2008

Selamat Menjalani Ibadah Puasa

Selamat Menjalani Ibadah Puasa dari UMNO Taman Sejahtera. Semoga Ibadah Puasa kita diterima Allah. Amin

Saturday, August 30, 2008

Kontrak Sosial

Kontrak sosial di Malaysia merujuk kepada perjanjian oleh bapa-bapa kemerdekaan negara dalam Perlembagaan, dan merupakan penggantian beri-memberi atau quid pro quo melalui Perkara 14–18 yang berkenaan dengan pemberian kewarganegaraan Malaysia kepada orang-orang bukan Melayu, dan Perkara 153 yang memberikan hak istimewa rakyat kepada mereka daripada kaum bumiputera. Istilah ini juga kekadang digunakan untuk merujuk kepada bahagian-bahagian yang lain dalam Perlembagaan, seperti Perkara yang mengatakan bahawa Malaysia adalah sebuah negara sekular.

Dalam konteks biasa yang berkaitan dengan hubungan ras, kontrak sosial telah kerap kali dibidaskan, termasuk juga oleh ahli-ahli politik dalam kerajaan campuran Barisan Nasional yang menegaskan bahawa tidak habis-habis bercakap tentang hutang orang-orang bukan Melayu kepada orang-orang Melayu terhadap kewarganegaraan yang diberikan telah merenggangkan golongan-golongan bukan Melayu daripada negara mereka. Kritikan-kritikan seumpama ini telah ditentang oleh media Melayu dan Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO), parti politik yang terbesar dalam Barisan Nasional. Banyak orang Melayu, biasanya daripada UMNO, telah mempergunakan kontrak sosial ini untuk mempertahankan prinsip Ketuanan Melayu.

Kontrak sosial selama ini telah lama diamalkan oleh para pemimpin terutamanya pemimpin dari parti kompenen Barisan Nasional. Tidak terdapat syarat-syarat formal mengenai kontrak sosial ini. Di bawah sedikit petikan mengenai kontrak sosial.

Perlembagaan Malaysia tidak merujuk kepada sebuah “kontrak sosial” (dari segi hak kewarganegaraan dan hak istimewa) secara ketara, dan tidak terdapat sebarang undang-undang atau dokumen yang pernah menjelaskan syarat-syarat kontrak sosial secara penuh. Pembela-pembelanya sering merujuk kepada Perlembagaan sebagai mengemukakan kontrak sosial, dan bapa-bapa kemerdekaaan juga bersetuju dengannya, walaupun rujukan kepada kontrak sosial tidak dibuat dalam Perlembagaan.
Sebaliknya, kontrak sosial biasanya dianggap sebagai suatu persetujuan yang memberikan kewarganegaraan kepada orang-orang bukan Melayu dan bukan orang asli (kebanyakannya orang Malaysia Cina dan Malaysia India) sebagai ganti untuk pemberian hak keistimewaan kepada orang-orang Melayu dan orang-orang asli (dirujuk secara kolektif sebagai Bumiputera).
Sebuah buku teks kajian Malaysia pendidikan tinggi yang menepati sukatan pelajaran kerajaan mengatakan: “Oleh sebab pemimpin-pemimpin Melayu bersetuju untuk melonggarkan syarat-syarat kewarganegaraan, pemimpin-pemimpin komuniti Cina dan India telah menerima kedudukan istimewa Melayu sebagai penduduk asli Malaya. Dengan penubuhan Malaysia, status kedudukan istimewa itu diperluas untuk merangkumi komuniti-komuniti penduduk asli Sabah dan Sarawak.”
[1]
Perlembagaan secara ketara memberikan tanah rizab Bumiputera, kuota dalam perkhidmatan awam, biasiswa dan pendidikan awam, kuota untuk lesen perniagaan, dan kebenaran untuk memonopoli industri-industri yang tertentu, jika kerajaan membenarkan. Bagaimanapun pada hakikatnya, khususunya selepas pengenalan Dasar Ekonomi Baru Malaysia (NEP), akibat rusuhan kaum pada 13 Mei 1969 ketika kaum Melayu hanya memiliki 4% daripada ekonomi Malaysia, hak-hak istimewa Bumiputera diperluas kepada bidang-bidang yang lain; kuota-kuota ditentukan untuk ekuiti Bumiputera dalam perbadanan awam, dan diskaun-diskaun sebanyak 5% hingga 15% untuk membeli kereta dan harta tanah diberikan.

Setengah-setengah orang mengatakan bahawa kecondongan terhadap orang-orang Melayu dalam pendidikan dan politik sebahagiannya merupakan tindak balas terhadap keupayaan orang-orang Malaysia Cina untuk memperoleh kebanyakan kekayaan negara itu. Bagaimanapaun, orang-orang Malaysia India boleh mengemukakan hujah bahawa merekalah yang mengalami kerugian yang paling banyak, walaupun ini boleh dipertikaikan.

Kerajaan ada mengundurkan sistem kuota untuk kemasukan ke universiti-universiti awam pada 2003 dan memperkenalkan dasar “meritokrasi”. Bagaimanapun, sistem baru ini dikritik secara meluas oleh orang-orang bukan Bumiputera kerana hanya memanfaatkan kaum Bumiputera yang ditempatkan dalam rancangan matrikulasi yang menonjolkan kerja kursus yang agak mudah sedangkan orang-orang bukan Bumiputera terpaksa mengambil Sijil Tinggi Persekolahan Malaysia (STPM). Walaupun secara teori, orang-orang bukan Bumiputra boleh masuk aliran matrikulasi, ini jarang berlaku pada hakikatnya.
Meritokrasi juga dikritik oleh sebilangan pihak dalam UMNO sebagai berdiskriminasi kerana ia mengakibatkan orang-orang Melayu luar bandar terkebelakang dalam kadar kemasukan universiti.
Suruhanjaya Reid yang menyediakan kerangka Perlembagaan menyatakan dalam laporannya bahawa Perkara 153, tulang belakang kontrak sosial, adalah bersifat sementara, dan menyesyorkan bahawa ia dikaji semula 15 tahun selepas kemerdekaan. Suruhanjaya juga menyatakan bahawa perkara itu dan peruntukan-peruntukannya hanya diperlukan untuk mengelakkan keadaan tiba-tiba yang tidak menguntungkan kepada orang-orang Melayu dalam persaingan dengan ahli-ahli masyarakat Malaysia yang lain, dan hak-hak istimewa yang diberikan kepada orang-orang Melayu oleh perkara itu harus dikurangkan secara beransur-ansur dan akhirnya dihapuskan. Bagaimanapun, disebabkan Peristiwa 13 Mei yang menyebabkan pengisytiharan darurat, tahun 1972 yang merupakan tahun kajian semula Perkara 153 berlangsung tanpa sebarang peristiwa.
Menurut penyokong-penyokong kontrak sosial, sebagai balasan untuk enakmen peruntukan-peruntukan yang pada asalnya bersifat sementara, orang-orang Malaysia bukan Melayu diberikan kewarganegaraan di bawah Bab I Bahagian III dalam Perlembagaan. Kecuali hak-haki istimewa Bumiputera, orang-orang bukan Bumiputera dianggap sebagai sama saja dengan orang-orang Bumiputera dan diberikan semua hak kewarganegaraan di bawah Bahagian II dalam Perlembagaan.
Pada tahun-tahun kebelakangan ini, sebilangan orang telah mencuba untuk membekalkan warganegara-warganegara Melayu dengan lebih banyak hak politik menurut falsafah ketuanan Melayu. Kebanyakan penyokong ketuanan Melayu memperdebatkan bahawa hak-hak tambahan ini telah ditulis dalam undang-undang dan hanya perlu dipertahankan daripada pembangkang-pembangkang.

Apabila mengambil alih jawatan presiden UMNO, Tunku Abdul Rahman (kemudian menjadi Perdana Menteri Malaysia pertama) menyatakan bahawa “…apabila kami (orang-orang Melayu) menentang Malayan Union (yang menjejaskan kedudukan hak-hak orang Melayu), kaum-kaum lain tidak mengambil bahagian kerana mereka mengatakan ini hanya merupakan masalah Melayu, dan bukan masalah mereka.
Mereka juga menunjukkan bahawa kesetiaan mereka adalah kepada negara-negara asal mereka dan oleh itu, menentang Laporan Barnes yang bertujuan untuk menjadikan bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan. Jika kami menyerahkan orang-orang Melayu kepada orang-orang yang dikatakan orang Malaya ketika kerakyatan mereka masih belum ditakrifkan, kami akan menghadapi banyak masalah pada masa hadapan.” Bagaimanapun, dia menambah bahawa “Bagi mereka yang mencintai dan berasa bahawa mereka terhutang kesetiaan yang tidak berbelah bagi, kami menyambut mereka sebagai orang Malaya. Mereka harus merupakan orang Malaya yang benar, dan mereka akan mempunyai hak-hak dan hak-hak istimewa yang sama dengan orang-orang Melayu.”

Ketiga-tiga di atas merupakan sentimen yang sering dimainkan oleh parti-parti politik sejak kebelakangan ini. Semangan muhibah dikalangan pemimpin-pemimpin awal negara seakan-akan dipermainkan oleh anak cucu mereka yang menjadi pemimpin parti-parti politik pada hari ini.
Persoalannya ketika isu kontrak sosial dimainkan oleh pemimpin bukan melayu…di mana pemimpin-pemimpin Melayu terutama dari pembangkang tampil mempertahankan kontrak sosial yang sudah sekian lama terbina?? Adakah adil sekiranya kita membiarkan konsep Ketuanan Melayu ini dihapuskan dan diganti dengan konsep Ketuanan Rakyat (sedangkan Ketuanan Melayu juga adalah sama kecuali penekanan yang lebih diberikan kepada orang Melayu) yang belum terbukti lagi menjamin masa depan orang Melayu?
Adilkah sekiranya anak-anak kita terpaksa mengharungi keperitan untuk ‘survive’ di masa hadapan sedangkan kita telah membesar dengan agak selesa sehingga apa yang kita kecapi setakat hari ini adalah hasil dari konsep Ketuanan Melayu. Diharap anak-anak muda faham akan kenapa walaupun negara kita sudah 50tahun merdeka konsep ini masih digunapakai. Konsep ini bukan lah sesuatu yang baru dan sejarah membukti bahawa terpisahnya Malaysia dengan Singapura adalah akibat perbuatan tidak bertanggungjawab pemimpin parti induk DAP iaitu PAP yang memainkan isu ketuanan Melayu ini.
Adakah anda lebih gemar konsep Ketuanan Melayu ini digugurkan dan digantikan dengan konsep Malaysian Malaysia atau konsep Ketuanan Rakyat??? Bukankah pemimpin parti seperti PKR dan PAS ini merupakan anak-anak yang membesar hasil dari konsep Ketuanan Melayu ini. Cuba fikirkan di mana pemimpin-pemimpin ini berada sekiranya konsep Ketuanan Melayu dihapuskan dahulu?? Adakah mereka akan begelar pemimpin??

Terkini:
Istilah “Ketuanan Melayu” perlu dilihat dalam konteks perjuangan orang Melayu sebelum merdeka yang menganggap Semenenjung Tanah Melayu sebagai tanah pusaka (sons of the soil) seperti yang diakui oleh pihak penjajah British ketika itu. Istilah ini juga merujuk kepada situasi sebelum merdeka yang menjelaskan reaksi orang Melayu terhadap penubuhan Malayan Union yang telah menghapuskan “Ketuanan Melayu” dari segi kedaulatan, kuasa politik dan isu kewarganegaraan yang longgar. “Ketuanan Melayu” dilaungkan oleh pemimpin Melayu pada ketika itu bagi menyatupadukan orang Melayu menentang Malayan Union dan bukannya menuntut kemerdekaan. Oleh itu, konsep ini ialah peristiwa dan reality sejarah pada ketika itu dan ia dimasukkan bukan bertujuan untuk menggugat perpaduan masyarakat Malaysia.

Istilah di atas merupakan penjelasan Kementerian Pendidikan mengenai Ketuanan Melayu. Penjelasan ini dipetik dari blog LKS.

Friday, August 29, 2008

Artikel 153 Dan Ketuanan Melayu




Salam semua,
Blog ini menerima email daripada seorang pembaca supaya artikel mengenai Ketuanan Melayu dituliskan di dalam blog ini supaya orang ramai faham mengenai perkara di atas. Ini disebabkan menurut beliau, rata-rata generasi muda melayu tidak faham mengapa ketuanan melayu harus dipertahankan. Penulis membuat sedikit carian dan kajian mengenai Ketuanan Melayu dan mendapati bahawa bukan isu mengenai Ketuanan Melayu harus dipostkan tetapi juga mengenai Artikel 153 dan kontrak sosial Malaysia harus dipostkan kerana ia saling mengaitkan antara satu sama lain. Sumber rujukan dari wikipedia dan lawnet.



Artikel 153 Perlembagaan Malaysia
Artikel 153 Perlembagaan Malaysia memberikan tanggungjawab kepada Yang di-Pertuan Agong menjaga hak keistimewaan orang Melayu dan penduduk asal Malaysia, secara kumpulannya dirujuk sebagai Bumiputera. Artikel mengspesifikkan bagaimana kerajaan pusat melindungi kepentingan kumpulan-kumpulan ini dengan mendirikan kuota kemasukan ke dalam perkhidmatan awam, biasiswa dan pendidikan awam. Ia juga biasanya dianggap sebagai sebahagian daripada sosial kontrak, dan biasanya dikatakan sebagai pertahanan legal bagi ketuanan Melayu — kepercayaan orang Melayu bahawa mereka adalah penduduk asal Malaysia.

Berikut adalah penyataan penuh Artikel 153 Perlembagaan Malaysia.
Perkara 153. Perizaban kuota berkenaan dengan perkhidmatan, permit, dsb. bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak.
(1) Menjadi tanggungjawab Yang di-Pertuan Agong untuk melindungi kedudukan istimewa orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak dan kepentingan sah kaum-kaum lain mengikut peruntukan Perkara ini.

(2) Walau apa pun apa-aa jua dalam Perlembagaan ini, tetapi tertakluk kepada peruntukan Perkara 40 dan peruntukan Perkara ini, Yang di-Pertuan Agong hendaklah menjalnakan fungsinya di bawah Perlembagaan ini dan undang-undang persekutuan mengikut apa-apa cara yang perlu untuk meindungi kedudukan istimewa orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak dan untuk memastikan perizaban bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak apa-apa perkadaran yang difikirkan munasabah oleh Yang di-Pertuan Agong daripada jawatan dalam perkhidmatan awam (selain perkhidmatan awam sesuatu Negeri) dan daripada biasiswa, danasiswa dan keistimewaan pendidikan atau latihan yang seumpamanya atau kemudahan khas lain yang diberikan atau diadakan oleh Kerajaan Persekutuan dan, apabila apa-apa permit atau lesen dikehendaki oleh undang-undang persekutuan bagi mengendalikan apa-apa pertukangan atau perniagaan, maka, tertakluk kepada peruntukan undang-undang itu dan Perkara ini, daripada permit dan lesen itu.

(3) Yang di-Pertuan Agong boleh, bagi memastikan, mengikut Fasal (2), perizaban bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak jawatan-jawatan dalam perkhidmatan awam dan biasiswa, danasiswa dan keistimewaan pendidikan atau latihan atau kemudahan khas lain, memberikan apa-apa arahan am yang dikehendaki bagi maksud itu kepada mana-mana Suruhanjaya yang baginya Bahagian X terpakai atau kepada mana-mana pihak berkuasa yang dipertanggungkan dengan tanggungjawab bagi pemberian biasiswa, danasiswa atau keistimewaan pendidikan atau latihan atau kemudahan khas lain itu; dan Suruhanjaya atau pihak berkuasa itu hendaklah mematuhi arahan itu dengan sewajarnya.

(4) Pada menjalankan fungsinya di bawah Perlembagaan ini dan undang-undang persekutuan mengikut Fasal (1) hingga (3) Yang di-Pertuan Agong tidak boleh melucutkan mana-mana orang daripada apa-apa jawatan awam yang dipegang olehnya atau daripada terus mendapat biasiswa, danasiswa atau keistimewaan pendidikan atau latihan atau kemudahan khas lain yang dinikmati olehnya.

(5) Perkara ini tidaklah mengurangkan peruntukan Perkara 136.

(6) Jika menurut undang-undang persekutuan yang sedia ada suatu permit atau lesen dikehendaki bagi mengendalikan apa-apa pertukangan atau perniagaan, maka Yang di-Pertuan Agong boleh menjalankan fungsinya di bawah undang-undang itu mengikut apa-apa cara, atau memberikan apa-apa arahan am kepada mana-mana pihak berkuasa yang dipertanggungkan di bawah undang-undang itu dengan pemberian permit atau lesen itu, sebagaimana yang dikehendaki untuk memastikan perizaban apa-apa perkadaran daripada permit atau lesen itu bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak sebagaimana yang difikirkan munasabah oleh Yang di-Pertuan Agong; dan pihak berkuasa itu hendaklaah mematuhi arahan itu dengan sewajarnya.

(7) Tiada apa-apa jua dalam Perkara ini boleh berkuat kuasa untuk melucutkan atau memberi kuasa supaya dilucutkan apa-apa hak, keistimewaan, permit atau lesen mana-mana orang, yang terakru kepada orang itu atau yang dinikmati atau dipegang oleh orang itu atau untuk memberi kuasa untuk menolak pembaharuan mana-mana permit atau lesen mana-mana orang atau untuk menolak pemberian apa-apa permit atau lesen kepada waris, pengganti atau penerima serah hak seseorang jika pembaharuan atau pemberian itu mungkin semunasabahnya dijangkakan mengikut perjalanan biasa keadaan.
( Walau apa pun apa-apa jua dalam Perlembagaan ini, jika menurut mana-mana undang-undang persekutuan apa-apa permit atau lesen dikehendaki bagi mengendalikan apa-apa pertukangan atau perniagaan, maka undang-undang itu boleh membuat peruntukan bagi perizaban apa-apa perkadaran daripada permit atau lesen itu bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak; tetapi tiada undang-undang sedemikian boleh, bagi maksud memastikan perizaban itu—
(a) melucutkan atau memberi kuasa supaya dilucutkan apa-apa hak, keistimewaan, permit atau lesen mana-mana orang, yang terakru kepada orang itu atau yang dinikmati atau dipegang oleh orang itu; atau
(b) memberi kuasa untuk menolak pembaharuan mana-mana permit atau lesen mana-manaa orang atau untuk menolak pemberian apa-apa permit atau lesen kepada waris, pengganti atau penerima serah hak mana-mana orang jika pembaharuan atau pemberian itu mengikut peruntukan yang lain dalam undang-undang itu mungkin semunasabahnya dijangkakan mengikut perjalanan biasa keadaan, atau menghalang mana-mana orang daripada memindahkan hakmilik bersama dengan perniagaannya apa-apa lesen yang boleh dipindahkan hakmiliknya untuk mengendalikan perniagaan itu; atau
(c) jika tiada permit atau lesen dahuluya dikehendaki bagi mengendalikan pertukangan atau perniagaan itu, memberi kuasa untuk menolak pemberian permit atau lesen kepada mana-mana orang bagi mengendalikan apa-apa pertukangan atau perniagaan yang telah dijalankan olehnya secara bona fide sebaik sebelum undang-undang itu mula berkuat kuasa, atau memberi kuasa untuk menolak pembaharuan kemudiannya mana-mana permit atau lesen mana-mana orang, atau untuk menolak pemberian mana-mana permit atau lesen sedemikian kepada waris, pengganti atau penerima serah hak mana-mana orang itu jika, mengikut peruntukan yang lain dalam undang-undang itu, pembaharuan atau pemberian itu mungkin semunasabahnya dijangkakan mengikut perjalanan biasa keadaan.

(8A) Walau apa pun apa-apa jua dalam Perlembagaan ini, jika di dalam mana-mana Universiti, Kolej dan institusi pendidikan lain yang memberikan pendidikan selepas Malaysian Certificate of Education atau yang setaraf dengannya, bilangan tempat yang ditawarkan oleh pihak berkuasa yang bertanggungjawab bagi pengurusan Universiti, Kolej atau institusi pendidikan itu kepada calon-calon bagi apa-apa kursus pengajian adalah kurang daripada bilangan calon yang layak mendapat tempat-tempat itu, maka adalah sah bagi Yang di-Pertuan Agong menurut kuasa Perkara ini memberikan apa-apa arahan yang perlu kepada pihak berkuasa itu untuk memastikan perizaban apa-apa perkadaran daripada tempat-tempat itu bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak sebagaimana yang difikirkan munasabah oleh Yang di-Pertuan Agong; dan pihak berkuasa itu hendaklah mematuhi arahan itu dengan sewajarnya.

(9) Tiada apa-apa jua dalam Perkara ini boleh memberi Parlimen kuasa untuk menyekat perniagaan atau pertukangan semata-mata bagi maksud perizaban bagi orang Melayu dan anak negeri mana-mana antara Negeri Sabah dan Sarawak.
(9A) Dalam Perkara ini ungkapan “anak negeri” berhubung dengan Negeri Sabah atau Sarawak hendaklah mempunyai erti yang diberikan kepadanya dalam Perkara 161A.

(10) Perlembagaan Negeri yang ber-Raja boleh membuat peruntukan yang bersamaan (dengan ubah suaian yang perlu) dengan peruntukan Perkara ini.
Terdapat perbezaan ketara di antara artikel 153 perlembagaan Malaysia dengan artikel 153 perlembagaan Singapura yang masing-masing menyebut mengenai hak istimewa orang Melayu. Artikel 153 (Malaysia) lebih spesifik dengan menjelaskan bagaimana hak-hak orang Melayu dan Bumiputra Malaysia dipertahankan.


Ketuanan Melayu
Ketuanan Melayu ialah konsep perkauman yang mendakwa bahawa orang Melayu adalah tuan kepada Persekutuan Tanah Melayu (sekarang) Malaysia . Orang Cina dan India di Malaysia yang dianggap sebagai pendatang (yang dibawa masuk oleh British) disifatkan terhutang budi kepada orang Melayu kerana kesanggupan dan kesediaan orang Melayu menerima mereka sebagai warganegara Persekutuan Tanah Melayu (sekarang) Malaysia sebagai prasyarat British memberikan kemerdekaan kepada Persekutuan Tanah Melayu.

Sebagai timbal balik kerana kesanggupan dan kesediaan apa yang disifatkan sebagai pengorbanan orang Melayu itu, perlembagaan memberi peruntukan khas kepada orang Melayu dalam bentuk hak istimewa dan ini dimaktubkan di dalam Perkara 153 Perlembagaan Persekutuan Tanah Melayu (sekarang) Malaysia).

Persetujuan quid pro quo atau saling beri-memberi ini biasanya dipanggil Kontrak Sosial. Konsep Ketuanan Melayu ini sering kali dijadikan retorik ahli politik Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu yang berpengaruh semenjak 50 tahun Persekutuan Tanah Melayu (sekarang Malaysia) mencapai kemerdekaannya dari British sebagai usaha meraih sokongan orang Melayu walaupun pada hakikatnya tidak ramai orang Melayu yang arif tentang konsep atau fahaman ini.

Walaupun retorik ini wujud sebelum Malaysia mencapai kemerdekaan, frasa ketuanan Melayu tidak menjadi satu perkara yang disebut ramai hingga ke awal tahun 2000-an. Kebanyakan tentangan konsep ini adalah daripada parti-parti yang tidak berdasarkan kaum Melayu, seperti Parti Tindakan Demokratik (DAP), tetapi sebelum kemerdekaan orang Baba dan Nyonya juga menentang konsep ini.

Konsep keulungan kaum Melayu mendapat perhatian dalam tahun 1940-an apabila orang Melayu bersatu untuk menentang penubuhan Malayan Union dan kemudian, berjuang untuk kemerdekaan. Semasa tahun 60-an, terdapat usaha yang cukup besar untuk mencabar ketuanan Melayu, diketuai oleh Parti Tindakan Rakyat (PAP) dari Singapura — yang merupakan negeri Malaysia dari 1963 hingga 1965 — dan DAP selepas pemisahan Singapura.

Walaupun begitu, sebahagian Perlembagaan berkaitan ketuanan Melayu berakar umbi selepas rusuhan kaum Mei 13, 1969 yang terjadi akibat kempen pilihan raya yang menjadikan hak-hak orang bukan Melayu dan ketuanan Melayu sebagai isu tumpuan. Tempoh ini juga menyaksikan kebangkitan ultra yang mendesak agar kerajaan parti tunggal diketuai UMNO, dan pertambahan penekanan bahawa orang Melayu merupakan “orang asal” Malaysia — iaitu hanya orang Melayu boleh dianggap penduduk asal Malaysia.

Tentangan yang dimainkan oleh DAP ini sebenarnya merupakan lanjutan tentangan yang dimainkan oleh parti induk DAP iaitu parti PAP(Singapura).

Berikut adalah tentangan mengenai ketuanan Melayu di dalam fasal 153 Perlembagaan Malaysia oleh PAP.
Ahli politik Singapura, Lee Kuan Yew (kemudian menjadi Perdana Menteri Singapura) Parti Tindakan Rakyat (PAP; cawangannya di Malaysia kemudiannya menjadi Parti Tindakan Demokratik atau DAP) secara umumnya mempersoalkan keperluan Artikel 153 dalam Parliamen, dan menyeru satu “Malaysian Malaysia”.


Mempersoalkan kontrak sosial , Lee telah menyatakan: “Merujuk kepada sejarah, orang Melayu telah mula untuk berhijrah ke Malaysia dalam bilangan yang banyak hanya kira-kira 700 tahun yang lalu. Dalam 39 peratus orang Melayu di Malaysia hari ini, kira-kira sepertiga secara perbandingan hanya imigran seperti setiausaha agung UMNO, Dato’ Syed Ja’afar Albar, yang datang ke Malaya dari Indonesia sebelum perang ketika berumur lebih tiga puluh tahun.

Thursday, August 21, 2008

Pembangunan Modal Insan oleh BN - Apa janji PR pula? Hanya omong kosong.

Sejak kebelakangan ini, buah mulut dan perbualan rakyat banyak berkisar dan tertumpu kepada kemelut politik tanahair. Walaupun ada segelintir yang beranggapan bahawa silat politik umpama suntikan semangat perjuangan, lebih banyak yang beranggapan kisah politik yang tidak menentu ini sudah berlansung terlalu lama.
Jika dilihat dengan kanta yang lebih mendalam, tema utama dalam senario politik semasa ini pula ialah bagaimana dasar-dasar populis yang dikemukakan oleh Pakatan Rakyat begitu releven dan dekat di hati rakyat.

Namun sebagai rakyat yang rasional, kita perlu bertanya; adakah cadangan-cadangan yang dilemparkan ini berdasarkan fakta yang sahih atau hanya sebagai peluru politik yang digunakan untuk memenangi hati rakyat.

Rakyat rasional yang sudah jelak dengan politik ingin melihat dasar yang benar-benar boleh membantu dan bukan hanya bersifat populis. Sebagai contoh, dasar pembangunan modal insan yang sudah sekian lama menjadi teras pembangunan di bawah pentadbiran Dato’ Sri Abdullah Badawi merupakan satu dasar yang perlu diberi sokongan yang padu. Pengenalan dan pemberian fokus kepada teras ini merupakan bukti bahawa dasar Kerajaan sentiasa mementingkan pembangunan rakyat.

Jika kita lihat dengan kanta rasional, belanjawan tahun ini memenuhi kehendak rakyat dari aspek pembangunan modal insan. Ini terbukti dengan apabila sejumlah RM47.7 bilion ringgit, atau hampir 23 peratus daripada Bajet, diperuntukkan untuk pendidikan dan latihan.

Belanjawan yang merangkumi insentif untuk latihan dan pembangunan insan peri penting dalam membolehkan negara kita melangkah setapak lagi ke hadapan. Sejumlah RM2.4 bilion ringgit diperuntukkan bagi mempertingkatkan kemudahan serta menjalankan program latihan dan kemahiran. Di dalam dunia yang semakin dipenuhi dengan pancaroba globalisasi ini, kita perlu akur bahawa kekayaan sumber tidak mapan dan akhirnya, modal insan jugalah yang berperanan membantu warga Malaysia melangkah untuk kemajuan.

Dilihat Kerajaan telah mengenalpasti kerjaya yang mempunyai permintaan yang tinggi tetapi kurang pendedahan dan penyertaan. Insentif ini akan menjadi pemangkin untuk anak-anak muda kita menjurus ke dalam ruang yang lmayan ini. Sebagai contoh, latihan terkini untuk kerjaya sebagai jururawat, jurutera aranotik, pakar IT amat dialu-alukan.

Jika Pakatan Rakyat menunding jari kearah Kerajaan kerana tidak mementingkan pendidikan untuk anak bangsa, bagaimana mereka mahu menjelaskan peruntukan RM31 bilion yang diberi kepada Kementerian Pelajaran Malaysia untuk 5.8 juta pelajar tanpa mengira kaum? Tambahan pula, bagi meningkatkan kualiti pembelajaran di peringkat pengajian tinggi, peruntukan RM14.1 bilion disediakan untuk Kementerian Pengajian Tinggi.

Sebenarnya, insiatif seperti inilah yang diperlukan bagi memudahkan kehidupan rakyat taktala negara dilanda kesempitan global ini.

Pembangunan modal insan boleh diumpamakan sebagai pelaburan yang dibuat untuk mengaut keuntungan pada masa hadapan. Inilah lunas-lunas perjuangan Kerajaan yang ada pada hari ini, bukan dasar jangkamasa pendek yang dapat menyenangkan rakyat hanya untuk hari ini, tetapi untuk memastikan warga Malaysia dapat bertanding di gelanggang sama rata pada masa hadapan.

Wednesday, August 6, 2008

1001 petua jimat minyak

Kenaikan harga petrol dan diesel mulai Khamis lalu pastinya membuatkan para pemandu dan penunggang terdiam sejenak, mencongak-congak kaedah atau cara paling efektif untuk menghadapi beban lonjakan harga emas hitam tersebut.
Walaupun keadaan seperti ini bukan pertama kali berlaku, namun masih ramai pengguna kenderaan masih belum melaksanakan secara aktif dan agresif segala kaedah untuk mengurangkan belanja pembelian minyak.
Dalam halaman Enjin minggu ini, penulis cuba berkongsi kaedah dan cara yang difikirkan paling efektif, mampu dilaksanakan dan berkesan agar poket tidak terlalu nipis sebelum akhir bulan akibat belian yang terlalu tinggi untuk mengisi perut kenderaan menerusi perubahan sikap dan kemampuan teknologi.
Antara yang paling mudah untuk dilakukan ialah jangan memandu secara agresif, berlumba-lumba dan terkinja-kinja terutama ketika berhenti di lampu isyarat atau terperangkap dalam kesesakan jalan raya dan meletakkan kenderaan di tempat yang teduh.
Jangan memecut sesuka hati dan mengehadkan kelajuan pada paras had yang ditetapkan sama ada di jalan negeri, persekutuan atau lebuh raya kerana semua maklum mengenai peningkatan revolusi per seminit (rpm) akan menjana kenaikan tahap pembakaran.
Selain itu, kurangkan jumlah barang atau muatan dalam kenderaan agar kenderaan menjadi ringan dan tidak memerlukan bahan bakar yang banyak untuk membolehkannya bergerak serta memastikan angin dalam tayar kenderaan sentiasa berada pada tahap yang optima.
Barang-barang seperti buku dan dokumen perniagaan, fail cukai pendapatan, alat memancing, beg golf, komponen alat ganti, surat khabar lama dan segala macam khazanah perlu ditinggalkan di rumah atau di kitar semula sahaja.
Kalau boleh kurangkan juga pemasangan penghawa dingin terutama ketika waktu malam yang boleh membantu menjimatkan pembakaran minyak kerana selain menjimatkan minyak, langkah ini turut membantu memelihara alam sekitar menerusi pelepasan karbon.
Rancang juga perjalanan anda terutama ketika balik kampung atau pergi bercuti, cuba elakkan pemanduan di kawasan yang sesak, jalan raya yang sedang dalam pembinaan dan berbukit agar masa menjadi lebih singkat dan jimat minyak.
Pada masa yang sama, kurangkan komitmen untuk memandu dengan memilih untuk berjalan ke destinasi yang dekat seperti kedai atau restoran selain menggunakan medium pengangkutan lain seperti basikal.
JadualPemandu juga dinasihatkan melakukan servis kenderaan mengikut jadual penyelenggaraan yang ditetapkan kerana enjin yang tidak diselenggara dengan baik boleh menyebabkan kos bahan bakar sehingga sehingga 50 peratus.
Tukar air filter sebelum ia menjadi kotor dan gunakan minyak enjin yang asli dan bersih dan ditukar setiap tiga hingga lima ribu batu selain memastikan gas cap ditutup dengan ketat sehingga bunyi klik kedua.
Langkah berkongsi kereta ke destinasi tempat kerja yang sama atau car pool memang boleh menjimatkan minyak dan sekali gus mengurangkan kesesakan lalu lintas sesuatu kawasan, misalnya bandar raya Kuala Lumpur apabila tiba waktu puncak.
Kempen kongsi kereta ke tempat kerja selama ini gagal dilakukan kerana faktor sikap dan mempunyai agenda kehidupan yang berlainan selain selesa dengan keadaan bersendirian di dalam kereta sendiri, namun kini ia mungkin tidak sesukar dahulu dalam keadaan semasa.
Selain mengamalkan sikap yang betul dalam menyelenggara dan corak pemanduan, kecanggihan teknologi pada hari ini juga boleh membantu mengurangkan belanja minyak.
Antara yang popular ialah pemasangan tangki gas asli iaitu penggunaan gas asli sebagai ganti bahan api petrol walaupun harga gas itu lebih kurang minyak petrol tetapi mampu memberi pemandu lebih kilometer kerana ketumpatannya.
Namun, kelemahan gas asli di negara ini pada masa sekarang ialah kos pemasangan yang agak mahal bergantung kepada jenis kereta yang dipandu kerana semakin tinggi teknologi kenderaan yang dipandu, maka semakin rumit jugalah sistem pendawaian yang menjurus kepada peningkatan kos pemasangan tangki gas asli sepenuhnya.
Pada masa yang sama, ruang bonet kenderaan akan menjadi terhad kerana saiz tangki gas asli yang agak besar akan memenuhi sebahagian besar ruang.
Industri automotif negara juga sudah mula menerima kemasukan kereta-kereta dengan enjin hybrid yang direka bentuk untuk kecekapan penggunaan minyak dan aliran rendah